Sajak Kehidupan
Panggung Sandiwara
Oleh: Hesti Rimadaniar
Angin mendesah perih
Berhembus lirih
Mentari tak bersahabat
dengan bumi
Bumi tak bersahabat
dengan langit
Sebab langit sendu
Seperti jiwa yang bersimpuh
Tempurungnya menopang
raga yang terkoyak-koyak dicakar Harimau kehidupan
Ia rapuh…
Oleh sebab beban hidup
yang menghancur-leburkan sukma
Bak traktor petani di
persawahan
Lail…
Gadis manis bermata
coklat
Yang senyum manisnya
telah lama raib
Terbunuh oleh keris yang membunuh para pendekar pejuang
Tertelan keserakahan
manusia pada hidangan nafsu yang melenakan
Ia berkelana dalam sebuah
Labirin
Berpetualang bersama
memori kelam yang telah meraibkan senyum diwajahnya
Lail tahu, ia takkan
menemukan garis finish
Saat ketuk palu itu
menghujam keras meja pengadilan
Riwayatnya hampir tamat
Ia merintih, bersujud,
memohon belas kasih
Pada tuan pengadilan yang matanya telah terbuai oleh brankas penuh
lembaran dollar
Yang tangannya telah
mendorong seorang korban ke jurang neraka berisi tersangka
Menerima suap dari seekor
Singa yang telah menggerayangi tubuh seorang gadis perawan
Ayahnya, Pemerkosa!
Lail muak dengan para
pembual ulung
Ia marah, hukum merenggut
paksa keadilan dan kebahagiaannya
Sedang ibunya semakin
hari semakin gila lalu mati terbunuh sendiri oleh jiwanya
Lail, gadis sebatang kara
Yang hidupnya
terluntang-lantung di jalanan
Hukum di negerinya telah
mengubah seorang malaikat menjadi gelap mata
Telah menyulap seekor
kupu-kupu cantik menjadi seekor ular yang siap menyemburkan bisa beracunnya
Dalam rintih tangisnya
yang menyayat nadi
Lail melihat sebuah
panggung sandiwara
Lewat selasar mata
batinnya sorak riuh para hadirin menggaung ditelinga
Sebuah pertunjukan sastra
tertangkap benak imaji
Diatas panggung kayu
berlangitkan tenda biru
Sang penulis menyairkan
sajak puisi melankolis
Sembari indera
penglihatannya menatap tajam Lail yang sedang menangis
Jari telunjuknya
menghakimi bagai seorang Teroris
Riuh tepuk tangan hadirin
semakin menyudutkan Lail ke tembok berduri
Seolah berkonspirasi membenarkan
tuduhan sang penyair
Lail tetohok
Pada semesta yang gemar
bersandiwara tanpa mau menyelesaikannya
Seolah sengaja ingin
menikamnya secara perlahan
Seolah sengaja
menjadikannya penghibur tuk lelaki hidung belang
Hingga diujung tanduk
kesabarannya Lail membuat keputusan
Akan menyelesaikan
sendiri panggung sandiwaranya
Merubuhkan tiang
penyangga bersama dirinya yang tertimbun reruntuhan
Sejak saat itu, Dewa
Baskara kehilangan sosok Dewi Rembulan
Gadis manis yang dulu
kerap bersenandung Kala menjemur pakaian dibawah kilau sang surya
Yang dulu kerap menemani
rembulan berkilau ditengah gaibnya bintang gemintang
Yang dulu kerap tersenyum
kala orang menyapanya dan memujinya cantik
Lail terkubur oleh
panggung sandiwaranya sendiri
Tenggelam dalam lautan
takdir yang beriak-riak ombaknya
Memutuskan untuk menerima
uluran tangan Malaikat Izrail
Lail, si gadis sebatang
kara
Bunuh Diri…
Menyusul sepasang
malaikat hati yang membuatnya mengenal dunia,
Panggung sandiwara yang
kejam!
(Lampung Selatan, 21 Juli
2019)

Bagus mba
BalasHapusNiceπ
BalasHapusGood sist
BalasHapusBagus ka
BalasHapusYesss
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren,
BalasHapusNice ♥️
BalasHapusKiyennnnn ♥
BalasHapusMantap... Lanjutkan
BalasHapusUwuww kerenππ
BalasHapusGood sekali hes
BalasHapusKeren Oncu πππ
BalasHapusbagus banget kak :)
BalasHapusBagus mba..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus :)
BalasHapusLuar biasa Ety gk bisa diungkapkan lagi karyamu ini ety π π
BalasHapusNice kakπ
BalasHapusGoodππ
BalasHapusNice kak
BalasHapusnicee
BalasHapus